Pages

Subscribe:

VISITOR

Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

24.2.13

Cara Membuat Mortar Plesteran dan Acian


Bagi Reader yang bergerak di bidang bangunan tentu sudah tidak asing lagi mendengar kata mortar. Mortar adalah campuran antara agregat halus atau agregat kasar dengan bahan pengikat seperti semen. Lalu dengan makin berkembangnya teknologi, pada mortar ditambahkan pula bahan filler sebagai pengisi dan additive.
Sederhananya mortar itu adalah bahan bangunan berupa material yang bisa digunakan untuk mlester, ngaci, masang bata, masang keramik dll. Loh kok sama dengan fungsi semen?? Ya betul.. memang hampir sama tapi mortar tentu lebih efektif dan efisien serta tepat guna.Karena mortar di design untuk beberapa item pekerjaan. Misalkan saja ngaci atau acian atau finish coat, dengan mortar maka hasil yang didapat dinding akan tampak lebih baik, mengurangi keretakan yang sering terjadi apabila kita menggunakan semen biasa.

Lalu secara definisi kan sudah dijelaskan diatas, lalu contoh produk mortar itu sendiri seperti apa sih?

Kalau kita mencampur antara pasir dengan semen dengan perbandingan 1:4 misalnya
untuk plesteran, ya itu juga mortar namanya tapi masih bersifat konvensional. Orang banyak salah kaprah disini. Seringkali orang membandingkan kata �konvensional� plester 1:4 ini dengan �mortar-plester� produk tertentu. Sebenarnya ya sama-sama mortar, hanya saja yang 1:4 tadi tidak masuk kategori �mortar instan�. Nah apalagi itu mortar instan? Ya inilah tema yang akan kami angkat.. �Mortar Instan� selanjutnya sebut saja �mortar�.
Banyak produk mortar yang kini ada di pasaran, namun banyak pula yang belum bisa dijumpai di retail. Sebut saja Plester, Acian, Thinbed, Tile Adhesive, Skimkoat, Floor Screed dsb. Beberapa produsen mortar menyebut produk mereka bermacam-macam ada yang dengan menggunakan kode ataupun langsung menamai produk mereka dengan item pekerjaannya spt disebut barusan.

Jaman dulu, katanya orang menggunakan putih telur dll untuk melekatkan batu bebatuan (membangun candi), lalu dengan ditemukannya �semen� orang beralih menggunakan semen sebagai bahan pengikat untuk masang batu/bata, menghaluskan permukaan/aci dsb. Lalu sekarang ada mortar yang khusus dibuat dan hasilnya lebih baik. Ah masa lebih baik? itu buktinya candi candi atau bangunan2 jaman Belanda masih baik-baik saja walaupun tanpa mortar? Ya benar sekali.. mortar bukan segalanya sih.. ;)

Di Indonesia penggunaan mortar boleh dibilang baru bila dibandingkan dengan negara-negara maju sana. Mungkin sekitar tahun 90-an mortar pertama kali diperkenalkan di tanah air. Siapa yang bermain disini? Sebut saja beberapa perusahaan mortar antara lain Mortar Utama, Drymix, Prime Mortar dll masih banyak lagi. kami akan share sedikit disini.

Mortar Instan
Yaitu: produk berupa mortar (semen-pasir-kapur-additive) yang sudah jadi satu, dikemas dalam sebuah kemasan, sifatnya instan hanya tinggal menambahkan air saja dan jadilah.
Contohnya: Plester, Acian, Thinbed
Anda tinggal buka packing zaknya lalu tuangkan air dan aduk-aduk sampai rata, jadilah adonan mortar siap pakai. Dibandingkan dengan Plester 1:4 konvensional yang harus ngayak pasirnya dulu, lalu nuang semennya diatas pasir ,lalu aduk-aduk tambahi air ,aduk-aduk lagi.. Naahh kan lebih instan yang pertama tadi. Mortar Instan juga memiliki kelebihan lain yakni sangat sedikit waste/kelebihan adonan karena produk mortar instan sudah bisa dikalkulasi untuk per m2 nya , 1 zak acian dan plester (40 kg) kurang lebih bisa mengcover 20 m2 dinding bata ringan ( HEBEL ) dengan ketebalan 1,5 mm. Anda ada berapa m2 dinding yang akan di plester? ya tinggal dibagi saja, lalu order mortar instannya sekian zak. Penempatan juga lebih efisien, dibanding kita harus menyiapkan lahan untuk pasir dan tumpukan zak semen bila dihadapkan dengan cara konvensional. Dan juga lebih bersih di area pekerjaan bila pakai mortar. Dan efektifitasnya adalah waktu kerja yang lebih cepat dan hasil yang memuaskan.

Untuk para praktisi lapangan sebenarnya selain hal teknis yang lebih penting adalah hal ekonomisnya, mana yang lebih ekonomis, pakai mortar atau cara konvensional? Anda coba lihat saja proyek-proyek highrise building di Jakarta, Surabaya, Bandung, Makasar Medan dsb, apalagi di jakarta mortar sudah jadi spek wajib bagi para owner, konsultan dan kontraktor. Memang sih keberadaan mortar ini masih belum banyak dimanfaatkan di proyek-proyek rumahan skala kecil, kalau rumah mewah sudah ada tren terhadap pemakaian mortar ini. Hitung-hitungannya selain dari sisi material produknya juga dalam hal waktu pekerjaan dan hasil tentunya. Sudah barang tentu proyek skala besar apalagi pasti akan jauh lebih untung dengan adanya pemangkasan waktu pekerjaan di proyek sehingga pekerjaan jauh lebih cepat.

Beberapa istilah yang harus dimengerti :
- Pasta adalah campuran air dengan semen,berfungsi sebagai:
a. Pengisi pori-pori diantara butiran-butiran agregat halus
b. Bersifat sebagai perekat/pengikat dalam proses pengerasan
Fungsi tersebutlah yang dapat menyebabkan saling terekatnya butiran2 agregat dengan kuat dan terbentuklah suatu massa yang kompak/padat.

Mortar sebenarnya adalah campuran semen, air, pasir namun ada yang berpendapat bahwa mortar adalah bahan bangunan berbahan dasar semen yang digunakan sebagai �perekat� untuk membuat struktur bangunan.
Perbedaan mortar dengan semen adalah pada mortar adalah semen siap pakai yang komponen pembentuknya umumnya adalah semen itu sendiri, filler, dan berbagai jenis additif yang sesuai.
Seperti kita tahu, dalam proses penggunaan semen oleh tukang, biasanya kita melihat tukang mencampur semen, pasir ayak, kapur (lime), bata merah halus (opsional), dan air. Pencampuran ini tentunya selalu tidak pernah seragam dan juga hanya berdasarkan �intuisi� si tukang. Adanya mortar tentunya merubah konsep cara pencampuran seperti itu karena mortar adalahSemen Instant siap pakai, hanya tambah air, aduk kemudian langsung bisa dipakai. Jenis-jenis mortar. Di Indonesia telah diperkenalkan beberapa jenis mortar, yaitu antara lain :
a. Tile Adhesive (Perekat Keramik) Ada vertikal (dinding) dan horizontal (lantai), dan juga ada perekat keramik baru diatas keramik lama (tanpa membongkar keramik lama)
b. Tile Grout Sebagai pengisi nat (celah) antar keramik
c. Thin Bed Untuk perekat AAC (Autoclaved Aerated Concrete) alias bata ringan
d. Skim Coat Untuk pelapis dinding baru
dll

Keuntungan Mortar:
a. Diproduksi di pabrik sehingga kualitas dan kuantitasnya dapat dipercaya jika dibanding dengan pembuatan di lapangan
b. Mudah, tinggal ditambah air saja
c. Adanya penambahan bahan additif pada mortar dapat menanggulangi terjadinya lantai terangkat, dinding pecah-pecah/retak, dll.

Untuk Pemesanan Panel Lantai dan Pemasangan serta Hebel Dinding,
HP                    : 081288386929/ 081315597900
Pin                    : 2AE72287/5379395C
Email                :  merlibata@gmail.com

8.11.12

Perbedaan Bata ringan (HEBEL) AAC dan CLC


Untuk menghindari kebingungan kita akan menjelaskan perbedaan antara bata ringan AAC (Autoclaved Aerated Concrete) dan CLC (Cellular Lightweight Concrete).


Bata ringan AAC adalah Material yang berbahan baku pasir silika, semen, kapur dan air ini dibuat dengan tekanan uap  tinggi. Proses pembuatan material ini diawali dengan proses pencampuran bahan baku. Setelah itu,  adonan bahan bahan baku tersebut dimasukan ke dalam alat yang bernama autoclaved. Di dalam  alat ini, adonan diberi tekanan uap air hingga suhu sekitar 200 derajat Celcius. Oleh karena  prosesnya menggunakan autoclaved maka material ini disebut sebagai autoclaved aerated  concrete
.
Dengan tekanan uap ini, bahan baku kapur dan pasir silika akan bereaksi. Hasil reaksi ini
menghasilkan pori-pori yang didalamnya berupa udara. Pori-pori inilah yang membuat material  ini menjadi ringan. Menurut perhitungan, beton ringan memliki berat jenis normal sekitar �650  kg/m3. Berat jenis yang lebih kecil dari berat jenis air mebuat material ini bisa mengapung di  atas air. Meski berpori, beton ringan aerasi tidak bersifat seperti sponge.
Artinya, keteika terkena air, air tersebut tidak akan meresap atau merembes kedalamnya. Rendahnya daya serap air dikarenakan  setiap pori yang ada tidak saling berhubungan dengan pori yang lain.

Seluruh proses produksi bata ringan AAC berbeda dengan CLC dan membutuhkan pabrikasi dan peralatan canggih serta investasi modal yang besar yaitu 10-30 juta USD dan kapasitas yg di hasilkan juga tinggi sekitar 300 m3 per hari bahkan lebih.

Seperti yang diuraikan di atas, maka sangat tidak mungkin untuk menghasilkan AAC pada lokasi proyek maupun untuk memproduksi panel prefab dengan bentuk dan ukuran yang diinginkan. Pengunaan baja penguat beton (rebar) harus dilindungi dengan bahan anti korosi.
Diperlukan sekelompok tim ahli yang  berpengalaman untuk mengoperasikan pabrik tersebut untuk menghasilkan pro-duct yang berkualitas, namun bata ringan AAC menawarkan densitas terendah dan memiliki rasio terbaik atas kepadatan berbanding dengan kuat tekan terhadap semua jenis beton.

Bata ringan CLC  adalah beton selular yang mengalami proses curing secara alami, CLC adalah beton konvensional yang mana agregat kasar (kerikil) digantikan oleh udara, dalam prosesnya mengunakan busa organik yang sangat stabil dan tidak ada reaksi kimia ketika proses pencampuran adonan, foam/busa berfungsi sebagai media untuk membungkus udara.
Pabrikasi dan peralatan yang digunakan untuk menghasilkan CLC juga standard, sehingga produksi dengan mudah dapat pula diintegrasikan ke dalam pabrikasi beton konvensional. Hanya pasir, semen, air  dan foam yang digunakan dan kepadatan yand didapatkan dapat disesuaikan mulai dari 350 sampai 1.800 kg / m� dan kekuatan dapat juga dicapai dari serendah 1,5 sampai lebih 30 N / mm �.

Pasir sungai  berukuran 2, 4, 6 dan 8mm dapat digunakan, tergantung pada kepadatan yang diinginkan. Semen portland menawarkan kinerja paling optimal tetapi kebanyakan jenis lain semen juga bisa digunakan.  kepadatan beton bisa disesuaikan, berbagai ukuran dan maupun panel prefab dapat diproduksi, di atas kepadatan dari 1.200 kg / m� (setengah dari berat beton konvensional) untuk aplikasi struktural dapat mengunakan rangka baja.

Pada CLC Gelembung udara yang dihasilkan benar-benar terpisah satu sama lain, sehingga penyerapan air jauh lebih sedikit dan baja tidak perlu dilapisi dengan lapisan anti korosi,  beton dengan kepadatan diatas 1.200 kg/m3 juga tidak memerlukan plaster, seperti pada AAC, hanya cukup di cat saja. Penyerapan air lebih rendah daripada di AAC dan masih cukup baik dibandingkan dengan beton konvensional.

CLC sama halnya dengan beton konvensional kekuatan akan bertambah seiring dengan waktu melalui kelembapan alamiah pada tekanan atmosfir saja. Meskipun tidak seringan AAC, CLC tetap menawarkan penurunan berat badan yang cukup besar dibandingkan dengan beton konvensional dan isolasi termal 500% lebih tinggi dan tahan api.
Paku dan Sekrup dapat dengan mudah dipaku ke CLC terus tanpa harus menggunakan pen, CLC juga dapat dipotong atau digergaji. Bahkan panel dinding rumah seluruhnya dapat dicetak hanya dalam sekali tuang.
Beton CLC menawarkan banyak ruang lingkup pengaplikasian, mulai dari isolasi atap rumah pada kepadatan serendah 350 kg / m� sampai dengan produksi panel dan lantai beton dengan kepadatan 1800 kg / m�.


Untuk Pemesanan Panel Lantai dan Pemasangan serta Hebel Dinding,
HP                    : 081288386929/ 081315597900
Pin                    : 2AE72287/5379395C
Email                :  merlibata@gmail.com